<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>STAKRIASU [stacia][karina][andi sumarni]</title>
	<atom:link href="http://stakriasu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://stakriasu.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Dec 2008 10:52:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='stakriasu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>STAKRIASU [stacia][karina][andi sumarni]</title>
		<link>http://stakriasu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://stakriasu.wordpress.com/osd.xml" title="STAKRIASU [stacia][karina][andi sumarni]" />
	<atom:link rel='hub' href='http://stakriasu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>ASI dan Hak bayi (Wujud cinta sesama)</title>
		<link>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/09/asi-dan-hak-bayi-wujud-cinta-sesama/</link>
		<comments>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/09/asi-dan-hak-bayi-wujud-cinta-sesama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 10:52:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>stakriasu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu dan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://stakriasu.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[IDE : ASI ungkapan cinta Allah, cinta ibu, cinta ayah dan cinta sesama yang akan menghasilkan anak-anak yang penuh cinta sehingga dunia akan dihiasi dengan cinta Setiap bayi mempunyai hak dasar atas makanan, kesehatan terbaik, interaksi psikologis terbaik untuk kebutuhan tumbuh kembang optimal. Para ahli gizi sepakat, ASI adalah makanan terbaik bagi bayi dengan segudang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=stakriasu.wordpress.com&amp;blog=5740684&amp;post=14&amp;subd=stakriasu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>IDE : <strong>ASI </strong>ungkapan cinta Allah, cinta ibu, cinta ayah dan cinta sesama yang akan menghasilkan anak-anak yang penuh cinta sehingga dunia akan dihiasi dengan cinta</p>
<p>Setiap bayi mempunyai hak dasar atas makanan, kesehatan terbaik, interaksi psikologis terbaik untuk kebutuhan tumbuh kembang optimal. Para ahli gizi sepakat, ASI adalah makanan terbaik bagi bayi dengan segudang manfaat dari berbagai aspek, tidak hanya untuk bayi tetapi juga untuk ibu. Sehingga mendapatkan ASI merupakan salah satu hak azasi bayi yang harus dipenuhi.</p>
<p>Hak anak adalah bagian dari hak azasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat dan Negara.</p>
<p>Hak  tersebut mencakup :<br />
1.	Non diskriminasi<br />
2.	Kepentingan terbaik bagi anak<br />
3.	Hak kelangsungan hidup<br />
4.	Perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak<br />
(UU Perlindungan Anak Bab I  pasal I No.12 danBab II  pasal 2)</p>
<p>Untuk memdukung hal tersebut telah dikeluarkan berbagai pengakuan atau kesepakatan yang bersifat regional maupun global yang bertujuan melindungi, mempromosi, dan mendukung pembaruan ASI. Sehingga diharapkan setiap ibu di seluruh dunia dapat melaksanakan pemberian ASI dan setiap bayi diseluruh dunia memperoleh haknya mendapatkan ASI.</p>
<p>Legislasi  Perlindungan yang telah dibuat  untuk  mewujudkan  hal tersebut antara lain :<br />
1.	<em>Convention on The Rights of The Child (CRC)</em><br />
Convention on The Rights of The Child atau Konvensi Hak Anak yang melibatkan 19 Negara menyatakan bahwa hak anak untuk mendapat standar kesehatan tertinggi dapat terpenuhi bils pemerintah memastikan penyediaan makanan bergizi, dan orang tua serta anak memperoleh informasi yang cukup tentang nutrisi dan manfaat pemberian ASI. Konvensi ini diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1990 dan menjadi Undang-Undang RI No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.</p>
<p>2.	<em>International Convenant on Economic, Social and Cultural Rights</em> <em>(ICESR)</em> Perjanjian Internasional untuk Hak Azasi di bidang Ekonomi, Sosial dan Kebudayaan (1966) yang melibatkan 142 negara mengesahkan “hak untuk Pangan dan Kesehatan”. Langkah yang diambil untuk memenuhi kecukupan pangan adalah memelihara, menerima atau memperkuat penganekaragaman diet serta memperhatikan konsumsi dan pola pemberian makanan yang tepat termasuk ASI.</p>
<p>3.	<em>Convention on the elimination of all forms of discrimination against womens (CEDAW)<br />
</em>Konvesi eliminasi segala bentuk diskriminasi terhadap wanita (1979) yang melibatkan 165 negara menyatakan bahwa ibu seharusnya mendapat pelayanan yang sesuai berkaitan dengan kehamilan dan meyusui.</p>
<p>4.	<em>Innocenti Declaration<br />
</em>Deklarasi Innocenti (1990) dilaksanakan sebagai upaya untuk pencapaian ASI ekslusive  pada 80% bayi usia 4 bulan.</p>
<p>5.	<em>Convention on Matermity Protection, International Labour Organization<br />
</em>Konvensi Perlindungan Maternal ILO menyatakan bahwa ibu bekerja seharusnya memperoleh cuti hamil minimal 12 minggu sebelum kembali bekerja. Sedangkan, pada konvensi tahun 2000, lama cuti hamil ditingkatkan menjadi 14 minggu.</p>
<p>6. Deklarasi lain : Konferensi Gizi Internasional (1992), Konferensi Kependudukan dan Pembangunan (1994), Konferensi Dunia tentang Wanita, Pertemuan Pangan Dunia ke 4 (1994).</p>
<p>Adalah hak setiap bayi untuk mendapat ASI. Begitu pula hak setiap ibu untuk menyusui bayinya. Sehingga berbagai legislasi diharapkan melindungi hak-hak ibu untuk menjamin keberhasilan menyusui.</p>
<p>Berkaitan dengan itu, berikut  hal yang kiranya perlu diperhatikan:<br />
Ibu bekerja perlu upah selama cuti agar dapat menyusui secara ekslusif (ILO,1997). WHA dan UNICEF (2001) menganjurkan menyusui ekslusif selama 6 bulan. Selanjutnya setelah ibu kembali bekerja, ibu mendapat kesempatan menyusui dengan fasilitas untuk menyusui atau memeras ASI di tempat kerjanya. Dan ternyata hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 Undang-undang ketenagakerjaan termasuk waktu ekstra menyusui/memerah di luar jam istirahat dan fasilitas atau ruang laktasi di kantor.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/stakriasu.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/stakriasu.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/stakriasu.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/stakriasu.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/stakriasu.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/stakriasu.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/stakriasu.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/stakriasu.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/stakriasu.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/stakriasu.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/stakriasu.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/stakriasu.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/stakriasu.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/stakriasu.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=stakriasu.wordpress.com&amp;blog=5740684&amp;post=14&amp;subd=stakriasu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/09/asi-dan-hak-bayi-wujud-cinta-sesama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be20f033ee0c7c2cd07eb9f37eaade4e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">stakriasu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebutuhan Gizi Pengaruhi Kecerdasan Anak</title>
		<link>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/09/kebutuhan-gizi-pengaruhi-kecerdasan-anak/</link>
		<comments>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/09/kebutuhan-gizi-pengaruhi-kecerdasan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 10:49:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>stakriasu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bayi dan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/09/kebutuhan-gizi-pengaruhi-kecerdasan-anak/</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA (Media): Penelitian membuktikan ada keterkaitan antara tubuh pendek dan tingkat kecerdasan. Bila sejak awal sudah tidak ada keseimbangan berat dan tinggi badan, maka akan berpengaruh pada pembentukan otak. Karena itu, kebutuhan gizi bayi sejak janin sampai usia lima tahun harus terpenuhi secara baik. Kepala Seksi Standardisasi, Subdit Gizi Mikro, Direktorat Gizi pada Ditjen Kesehatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=stakriasu.wordpress.com&amp;blog=5740684&amp;post=13&amp;subd=stakriasu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Verdana;color:#000000;font-size:x-small;">JAKARTA (Media): Penelitian membuktikan ada keterkaitan antara tubuh pendek dan tingkat kecerdasan. Bila sejak awal sudah tidak ada keseimbangan berat dan tinggi badan, maka akan berpengaruh pada pembentukan otak. Karena itu, kebutuhan gizi bayi sejak janin sampai usia lima tahun harus terpenuhi secara baik.</span></p>
<p><!--AD--><span style="font-family:Verdana;color:#000000;font-size:x-small;">Kepala Seksi Standardisasi, Subdit Gizi Mikro, Direktorat Gizi pada Ditjen Kesehatan Masyarakat Depkes dr Atmarita menegaskan hal tersebut di Jakarta, kemarin, di sela-sela Kongres Nasional XII dan temu ilmiah Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) yang berlangsung hingga Rabu (10/7).</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#000000;font-size:x-small;">Menurut Atmarita, anak yang perkembangannya sangat lambat disebabkan oleh pembentukan otak maupun tubuhnya tidak baik akibat gizinya buruk. “Berarti hal paling penting adalah pemenuhan gizi bayi sejak dalam kandungan sampai berusia lima tahun, dan bila tidak terpenuhi, pertumbuhan otak dan tubuhnya tidak bagus. Anak dengan tubuh pendek, ia mengemukakan, berarti status gizi pada masa lalunya sudah kronis,” jelas Atmarita.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#000000;font-size:x-small;">Namun begitu, lanjutnya, sampai usia 18 tahun pun asupan gizi masih penting untuk pertumbuhan fisik anak. Jadi jika tubuh seseorang kurus, Atmarita menilai, hal ini dipengaruhi oleh keadaan gizi pada saat itu.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#000000;font-size:x-small;">Bersama rekannya, dr Robert L Tiden, pakar gizi tersebut menganalisis masalah gizi di perkotaan yang dikaitkan dengan tinggi badan anak baru masuk sekolah.</span></p>
<p><!--SECTION NAV--><span style="font-family:Verdana;color:#000000;font-size:x-small;">Atmarita mengatakan, 62% lebih anak di perkotaan memiliki tinggi badan normal dari segi umur, sedangkan anak di pedesaan hanya 49%. Maka disimpulkan bahwa anak di perkotaan memiliki keadaan gizi lebih baik dibanding anak di pedesaan. Meski demikian, obesitas (gemuk sekali) pada anak di perkotaan cenderung lebih tinggi dibanding anak di pedesaan. Cuma, masalah itu mulai meningkat bukan saja di perkotaan, melainkan juga di pedesaan.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#000000;font-size:x-small;">Atas dasar tersebut, Atmarita menegaskan, program perbaikan gizi sekarang harus diubah dengan memerhatikan faktor yang terkait dengan pola hidup penduduk di perkotaan maupun pedesaan.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#000000;font-size:x-small;">Sebelumnya, Menkes Achmad Sujudi dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Staf Ahli Menkes Bidang Desentralisasi dan Kelembagaan Dini Latief merasa prihatin karena proporsi anak pendek di Indonesia masih cukup tinggi.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#000000;font-size:x-small;">“Saya yakin, para ahli gizi mengetahui situasi ini karena di tiap wilayah telah difasilitasi dengan pemantauan status gizi,” ulasnya.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#000000;font-size:x-small;">Ia menambahkan sudah banyak penelitian yang menyimpulkan pentingnya gizi untuk meningkatkan kemampuan belajar dan mengikuti pendidikan sampai tingkat tertinggi.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#000000;font-size:x-small;">Menkes mengutip pula sejumlah studi di Filipina, Jamaika, dan negara lainnya yang membuktikan, adanya hubungan yang sangat bermakna antara tinggi badan dan kemampuan belajar.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#000000;font-size:x-small;">Bahkan, ujarnya, dihasilkan bahwa pemberian makanan tambahan pada anak bertubuh pendek berusia 9-24 bulan akan mampu meningkatkan kemampuan belajar anak ketika berusia 7-8 tahun.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#000000;font-size:x-small;">Dibuktikan pula dari beberapa studi bidang ekonomi di Ghana maupun Pakistan mengenai pentingnya gizi untuk mendukung pembangunan. “Malah dengan menurunkan prevalensi anak pendek sebesar 10%, akan dapat meningkatkan 2%-10% proporsi anak yang mendaftar ke sekolah.” (<strong>Rse/V-4</strong>)</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/stakriasu.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/stakriasu.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/stakriasu.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/stakriasu.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/stakriasu.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/stakriasu.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/stakriasu.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/stakriasu.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/stakriasu.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/stakriasu.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/stakriasu.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/stakriasu.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/stakriasu.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/stakriasu.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=stakriasu.wordpress.com&amp;blog=5740684&amp;post=13&amp;subd=stakriasu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/09/kebutuhan-gizi-pengaruhi-kecerdasan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be20f033ee0c7c2cd07eb9f37eaade4e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">stakriasu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelukan Ibu Membentuk Daya Tahan Anak</title>
		<link>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/06/pelukan-ibu-membentuk-daya-tahan-anak/</link>
		<comments>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/06/pelukan-ibu-membentuk-daya-tahan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 01:57:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>stakriasu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu dan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://stakriasu.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Pelukan Ibu Membentuk Daya Tahan Anak Jangan remehkan pelukan. Pelukan bisa membawa banyak manfaat. Mulai dari manfaat psikologis sampai manfaat dalam membantu pembentukan daya tahan anak. Pelukan membawa manfaat psikologis karena anak tahu bahwa ia berada dalam dekapan perlindungan dari seseorang yang mengasihinya. Tapi, bagaimana pelukan ibu bisa membantu pembentukan daya tahan anak? Saat dipeluk, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=stakriasu.wordpress.com&amp;blog=5740684&amp;post=11&amp;subd=stakriasu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="post-title entry-title"><a href="http://victor-health.blogspot.com/2008/12/pelukan-ibu-membentuk-daya-tahan-anak.html">Pelukan Ibu Membentuk Daya Tahan Anak</a></h3>
<p>Jangan remehkan pelukan. Pelukan bisa membawa banyak manfaat. Mulai dari manfaat psikologis sampai manfaat dalam membantu pembentukan daya tahan anak.</p>
<p>Pelukan membawa manfaat psikologis karena anak tahu bahwa ia berada dalam dekapan perlindungan dari seseorang yang mengasihinya.</p>
<p>Tapi, bagaimana pelukan ibu bisa membantu pembentukan daya tahan anak? Saat dipeluk, mikroorganisme yang ada di badan anak akan berpindah pada ibu. Daya tahan ibu akan mengenalinya sebagai benda asing dan segera membentuk antibodi spesifik untuk melawannya. Mengingat antibodi akan ikut bersama ASI, antibodi spesifik ini pun akan juga diteruskan kepada si buah hati. Dengan demikian, si buah hati akan mempunyai senjata terhadap mikroorganisme yang mengenainya.</p>
<p>Karena itu, jangan remehkan ASI dan pelukan bagi si buah hati. Kedua hal tersebut dapat memberikan kontribusi besar dalam pembentukan daya tahan anak.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/stakriasu.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/stakriasu.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/stakriasu.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/stakriasu.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/stakriasu.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/stakriasu.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/stakriasu.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/stakriasu.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/stakriasu.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/stakriasu.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/stakriasu.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/stakriasu.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/stakriasu.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/stakriasu.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=stakriasu.wordpress.com&amp;blog=5740684&amp;post=11&amp;subd=stakriasu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/06/pelukan-ibu-membentuk-daya-tahan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be20f033ee0c7c2cd07eb9f37eaade4e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">stakriasu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Enam Langkah Membuat Status Gizi Balita Meningkat</title>
		<link>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/06/enam-langkah-membuat-status-gizi-balita-meningkat/</link>
		<comments>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/06/enam-langkah-membuat-status-gizi-balita-meningkat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 01:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>stakriasu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Status Gizi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://stakriasu.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Enam Langkah Membuat Status Gizi Balita Meningkat Gizi.net &#8211; BOGOR—Puslitbang Gizi Departemen Kesehatan menemukan sebuah konsep bagaimana menanggulangi masalah kekurangan gizi pada anak balita. Peneliti Puslitbang Gizi Bogor, Trintrin Tjukani Mkes Selasa lalu menjelaskan, ada enam tahap dalam konsep yang diujicobakan melalui sebuah penelitian di Kabupaten Pandeglang Banten. Pertama, pengorganisasian masyarakat. Kedua, pelatihan. Ketiga, penimbangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=stakriasu.wordpress.com&amp;blog=5740684&amp;post=9&amp;subd=stakriasu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:verdana,arial,helvetica;font-size:x-small;"> <strong>Enam Langkah Membuat Status Gizi Balita Meningkat</strong></span><br />
<span style="font-family:verdana,arial,helvetica;font-size:x-small;"> <strong><span style="color:#ff0000;">Gizi.net &#8211; </span></strong> BOGOR—Puslitbang Gizi Departemen Kesehatan menemukan sebuah konsep bagaimana menanggulangi masalah kekurangan gizi pada anak balita. Peneliti Puslitbang Gizi Bogor, Trintrin Tjukani Mkes Selasa lalu menjelaskan, ada enam tahap dalam konsep yang diujicobakan melalui sebuah penelitian di Kabupaten Pandeglang Banten.</p>
<p>Pertama, pengorganisasian masyarakat. Kedua, pelatihan. Ketiga, penimbangan balita. Keempat, penyuluhan gizi. Kelima, pemberian makanan tambahan. Dan keenam, penggalangan dana.</p>
<p>“Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji konsep tersebut. Sehingga diharapkan dapat diperoleh suatu model pemberdayaan masyarakat untuk menanggulangi KEP (Kurang Energi Protein) pada balita. Kemudian bisa diimplementasikan ke daerah lain,” ujarnya dalam Diseminasi Hasil Penelitian Puslitbang Gizi di Bogor.</p>
<p>Uji coba dilakukan di enam desa di tiga kecamatan. Masing-masing desa diwakili oleh satu posyandu sebagai lokasi penelitian. Sedang sampel diambil tokoh masyarakat yang menjadi pengurus pengentasan KEP, anaka balita yang menderita KEP, dan ibu balita yang menderita KEP.</p>
<p>Mula-mula, sesuai dengan tahapan dalam konsep, dibentuklah organisasi pengurus pengentasan KEP pada balita di enam desa tersebut. Pengurus ini di masing-masing desa terdiri dari lima orang yang mewakili beberapa unsur dalam masyarakat. Mulai dari tokoh agama sampai pamong desa. Dalam pelaksanaan selanjutnya pengurus yang aktif akan bertambah sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan.</p>
<p>Kemudian dilakukan pelatihan kepada para pengurus tersebut. Pelatihan itu meliputi pengetahuan gizi, penyuluhan gizi, penyelenggaraan PMT (pemberian makanan tambahan), dan bagaimana cara menggalang dana untuk pengadaan PMT ini.</p>
<p>Agar efisien, pelatihan dilakukan serentak untuk enam desa, dilaksanakan di kota kabupaten dengan melibatkan bidan desa serta tenaga pelaksana gizi. Tidak lupa para peserta pelatihan diberi buku panduan.</p>
<p>Selanjutnya, setelah para pengurus ini terjun ke lapangan, dilakukanlah evaluasi hasil. Caranya dengan menimbang anak balita secara berkesinambungan setiap bulan selama tiga bulan. Pada awal penelitian ditemukan 87 anak balita yang menderita KEP. Kemudian semua anak balita yang menjadi sampel penelitian ini diberi makanan tambahan setiap hari selama tiga bulan.</p>
<p>Makanan tambahan dibuat oleh pengurus secara bergantian dan diberikan kepada anak dengan cara diambil dan dimakan di rumah kader. Bila ada balita tidak datang, makanan tersebut diantar ke rumah balita yang bersangkutan oleh kader. Makanan tambahan tersebut bisa berupa bubur, kolak atau nasi dengan lauk-pauk, atau kue-kue. Yang penting asupan energi dan proteinnya per porsi mencapai 300 sampai 400 kalori dan 3,5 sampai 10 gram protein.</p>
<p>Pelaksanaannya sendiri bervariasi. Ada desa yang bisa menyelenggarakan 10 hari berturut-turut dan dilanjutkan dengan tiga hari sekali. Ada juga yang menyelenggarakan dua hari sekali. Sedang yang lain, dua kali seminggu dan sekali seminggu.</p>
<p>Ketika pemberian makanan tambahan dilakukan, pengurus harus memberikan pula penyuluhan gizi kepada ibu balita. Ini agar ada kesinambungan setelah program selesai.</p>
<p>Soal dana, di bulan pertama disediakan oleh lembaga penelitian. Besarnya Rp 1.000 per anak per hari. Lalu pada bulan kedua, setelah mereka diberi pengetahuan bagaimana cara menggalang dana sendiri, mereka dilepaskan. Cara menggalang dana bisa lewat posyandu, majelis ta’lim, atau ada donatur desa. Dari enam desa yang diteliti, kata Trintrin, lima desa ternyata sudah bisa memberikan PMT secara swadaya pada bulan kedua dan ketiga.</p>
<p>Dari penelitian ini, kata Trintrin, disimpulkan bahwa konsep ini bisa meningkatkan status gizi balita dengan tingkat keberhasilan 50 persen, bahkan lebih. Buktinya, lanjut Trintrin, pada awal penelitian ada 90,6 persen anak dengan status gizi kurang dan 9,4 persen dengan status gizi buruk. Pada akhir penelitian tidak ada lagi anak balita dengan status gizi buruk. Sedang balita dengan status gizi kurang turun menjadi 45,3 persen.*mal</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/stakriasu.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/stakriasu.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/stakriasu.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/stakriasu.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/stakriasu.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/stakriasu.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/stakriasu.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/stakriasu.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/stakriasu.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/stakriasu.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/stakriasu.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/stakriasu.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/stakriasu.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/stakriasu.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=stakriasu.wordpress.com&amp;blog=5740684&amp;post=9&amp;subd=stakriasu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/06/enam-langkah-membuat-status-gizi-balita-meningkat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be20f033ee0c7c2cd07eb9f37eaade4e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">stakriasu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengatasi panas dan rewel kala hendak tumbuh gigi</title>
		<link>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/04/status-gizi-ibu-hamil-serta-pengaruhnya-terhadap-bayi-yang-dilahirkan/</link>
		<comments>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/04/status-gizi-ibu-hamil-serta-pengaruhnya-terhadap-bayi-yang-dilahirkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 14:18:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>stakriasu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bayi dan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://stakriasu.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[ Mengatasi panas dan rewel kala hendak tumbuh gigi By admin on November 26th, 2008 eputar pertumbuhan gigi anak dari milis nakita, dengan tajuk: “Mengatasi panas dan rewel kala hendak tumbuh gigi” Kadang bayi rewel, tubuhnya hangat, dan tak nafsu makan gara-gara hendak tumbuh gigi. Walaupun akan hilang dengan sendirinya, tapi ada baiknya orang tua mencoba [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=stakriasu.wordpress.com&amp;blog=5740684&amp;post=3&amp;subd=stakriasu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <span style="font-family:Verdana, sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><a href="http://bayidananak.com/2008/11/26/mengatasi-demam-tumbuh-gigi/"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">Mengatasi panas dan rewel kala hendak tumbuh gigi</span></span></a></span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">By </span></span><a href="http://bayidananak.com/author/bayi&amp;anak/"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">admin</span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;"> on November 26th, 2008 </span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana, sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">eputar pertumbuhan gigi anak dari milis nakita, dengan tajuk: “Mengatasi panas dan rewel kala hendak tumbuh gigi”</span></span></p>
<p><em><strong><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;"><span style="color:#000000;">K</span></span></span></strong><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;"><span style="color:#000000;">adang bayi rewel, tubuhnya hangat, dan tak nafsu makan gara-gara hendak tumbuh gigi. Walaupun akan hilang dengan sendirinya, tapi ada baiknya orang tua mencoba mengatasinya. </span></span></span></em><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;"><span style="color:#000000;">“Kok, kayaknya akhir-akhir ini si Riska agak rewel, makannya susah dan badannya agak hangat. Jangan-jangan dia mau tumbuh gigi.” Demikianlah biasanya praduga sebagian ibu-ibu. Namun benarkah semua gejala tadi pertanda hendak tumbuh gigi? </span></span></span></p>
<p><a name="more-74"></a><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">Menurut </span></span><strong><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">drg. Taty Z. Cornain, SpKGA</span></span></strong><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">, dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, adakalanya memang kala hendak tumbuh gigi, bayi jadi rewel, tubuhnya </span></span><em><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">sumeng</span></span></em><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">/hangat, nafsu makannya berkurang. Namun adakalanya pula tak ada gejala berarti. Dalam arti, aman-aman saja. “Reaksi tersebut tergantung pada daya tahan tubuhnya atau ketahanan daya ambang sakitnya, yang pada tiap bayi berbeda-beda. Jadi, sifatnya individual sekali.” HILANG BEGITU GIGI MUNCUL Biasanya, kalau daya tahan tubuh si bayi bagus, saat tumbuh gigi tak selalu bereaksi tubuh hangat. Jikapun hangat, mirip gejala awal mau flu. Hanya saja di sini tak disertai gejala flu, semisal bersin atau batuk dan lainnya. Yang justru harus diwaspadai bila suhu tubuhnya antara 38,5­40 derajat Celcius, perlu dicurigai ada penyakit lain. </span></span><em><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">Sumeng</span></span></em><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;"> gara-gara mau tumbuh gigi ini bisa berlangsung kira-kira 1-3 hari. “Tapi tak usah khawatir. Didiamkan saja pun, </span></span><em><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">sumeng</span></span></em><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">-nya akan hilang sendiri,” bilang Taty. Hanya saja, tambahnya, umumnya orang tua langsung panik jika tubuh bayinya hangat. “Takut panasnya makin tinggi dan si bayi lantas kejang atau </span></span><em><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">stuip</span></span></em><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">. Sehingga mereka biasanya langsung melakukan tindakan preventif, yaitu diberikan obat penurun panas.” Selain gejala hangat, sudah pasti bayi akan rewel karena ia tak bisa mengeluhkan rasa sakitnya. Rewel yang menyertainya juga paling lama seminggu. Begitu pun dengan perasaan tak enak di mulutnya hingga jadi malas makan atau mengunyah, serta nafsu makan yang berkurang. Biasanya hal ini tak berlangsung terus-menerus. Kalau giginya sudah nongol atau kelihatan sedikit saja, entah 1 atau 2 milimeter, biasanya dampak yang ditimbulkannya, semisal rewel atau tak enak di mulut, pun hilang. Saat itu, papar Taty, benih gigi akan keluar dari tempatnya di dalam tulang rahang dan sampai akhirnya muncul gigi di gusi. Gusi akan sedikit tampak agak pucat dan agak menonjol dibanding gusi di sebelahnya. Dalam proses keluarnya gigi dari tulang rahang ini, ia akan menembus gusi, sehingga terasa sakit. “Seolah gusi tersebut terkena luka atau sayatan, maka akan terasa sakit.” Proses timbulnya gigi dari bawah ke atas ini tak bisa diukur berapa lama. Juga, sampai di mana posisi giginya sebelum menembus gusi hanya bisa dilihat dengan foto rontgen. </span></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">TAK MESTI PADA USIA 6 BULAN Umumnya bayi mulai tumbuh gigi di usia 6-12 bulan, dan sempurnanya sampai usia 24 bulan. Meski ada juga bayi yang tumbuh giginya sebelum usia 6 bulan. “Ini merupakan salah satu bentuk kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi,” jelas Taty. Biasanya, yang berupa kelainan ini, begitu lahir si bayi sudah ada giginya, dikenal dengan istilah gigi natal. “Gigi natal ini tumbuh tak tentu, kadang di bagian depan atas, kadang di bagian bawah. Yang jelas, ia jarang tumbuh di bagian belakang. Banyaknya pun hanya satu buah.” Sementara kelainan gigi susu yang tumbuhnya pada bulan pertama setelah kelahiran dikenal dengan gigi neonatal. Seperti halnya gigi natal, pada kelainan gigi neonatal pun belum tentu bayi mengalami gejala sakit tumbuh gigi. “Apalagi ini hanya suatu kelainan bentuk pertumbuhan dan perkembangan gigi saja,” terang Taty. Jadi, Bu-Pak, tak setiap kali tumbuh gigi, bayi akan merasa sakit alias sifatnya sangat variatif. Mungkin ada gigi yang menembus jaringan yang lebih padat dan ada yang tidak. Biasanya kalau menembus jaringan yang padat, dia akan merasakan sakit. Jadi, tergantung kepadatan jaringan yang ditembusnya. Hanya kita tak bisa memastikan bagian mana yang lebih tebal dan yang tidak. HARUS DIATASI Jadi, ulas Taty, jika tumbuh gigi pada bayi tak bermasalah, maka didiamkan saja juga tak apa-apa. Hanya kalau bayinya jadi sangat rewel, tampak tak tahan sakit, serta badannya hangat/</span></span><em><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">sumeng</span></span></em><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">, sebaiknya orang tua mencoba mengatasinya dengan memberikan obat penurun panas sebagai pertolongan pertama atau penolong. </span></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">Seringkali, bayi yang sakit karena tumbuh gigi dibawa ke dokter anak, bukan ke dokter gigi. Soalnya, terang Taty, jika bayi tubuhnya hangat, orang tua lebih curiga bukan tumbuh gigi, tapi penyakit lainnya seperti panas karena demam berdarah, tifus, dan lainnya.” Namun, walau bukan dokter gigi, dokter anak pun bisa mengetahui apakah si bayi sakit karena tumbuh gigi atau bukan. “Bila suhunya tak terlalu tinggi dan tak ada gejala seperti batuk, pilek, dan lainnya, dokter akan melihat kondisi mulutnya. Jika ada sesuatu pada gusinya, seperti warna gusi yang lebih pucat dan agak menonjol dibanding sisi lainnya, maka diduga hangat tubuhnya berasal dari gigi yang mau tumbuh.” Biasanya dokter akan memberikan obat-obatan yang mengandung analgesik dan antipiretik sebagai obat-obatan penghilang rasa sakit. Obat-obatan tersebut berada dalam kandungan obat-obat penurun panas. “Barulah kalau ada suatu masalah pada giginya, misal, bengkak sekali dan agak kebiruan karena ada pembuluh darahnya yang terjepit, dirujuk ke dokter gigi.” Sedangkan bila nafsu makannya jadi berkurang, tentu saja tak bisa didiamkan terus. Biar bagaimanapun tetap harus diberikan makanan. Karena masih bayi, tentunya makanan yang diberikan pun tak terlalu keras, tapi yang cair. Kalaupun tumbuhnya sesudah 6 bulan dan ia sudah makan tim, maka berikan makanan yang agak lunak, misal, dengan diblender. “Yang pasti, harus dihindari makanan yang agak keras.” </span></span><em><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;">Dedeh Kurniasih.Foto: Iman Dharma (nakita)</span></span></em><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana, sans-serif;"> </span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/stakriasu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/stakriasu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/stakriasu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/stakriasu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/stakriasu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/stakriasu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/stakriasu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/stakriasu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/stakriasu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/stakriasu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/stakriasu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/stakriasu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/stakriasu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/stakriasu.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=stakriasu.wordpress.com&amp;blog=5740684&amp;post=3&amp;subd=stakriasu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/04/status-gizi-ibu-hamil-serta-pengaruhnya-terhadap-bayi-yang-dilahirkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be20f033ee0c7c2cd07eb9f37eaade4e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">stakriasu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/04/hello-world/</link>
		<comments>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/04/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 13:04:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>stakriasu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=stakriasu.wordpress.com&amp;blog=5740684&amp;post=1&amp;subd=stakriasu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/stakriasu.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/stakriasu.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/stakriasu.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/stakriasu.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/stakriasu.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/stakriasu.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/stakriasu.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/stakriasu.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/stakriasu.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/stakriasu.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/stakriasu.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/stakriasu.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/stakriasu.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/stakriasu.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=stakriasu.wordpress.com&amp;blog=5740684&amp;post=1&amp;subd=stakriasu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://stakriasu.wordpress.com/2008/12/04/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be20f033ee0c7c2cd07eb9f37eaade4e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">stakriasu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
